Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut turut menyebabkan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
BI mencatat sepanjang Januari hingga Maret 2026 terjadi arus keluar modal asing di pasar saham sebesar Rp26,06 triliun dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp25,1 triliun. Namun, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai kembali menarik minat investor asing setelah BI menaikkan imbal hasil instrumen tersebut.
Pada April hingga awal Mei 2026, SRBI mencatat arus modal masuk mencapai Rp75,31 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, total inflow SRBI tercatat mencapai Rp105,16 triliun.
Menurut Perry, masuknya kembali dana asing tersebut membantu memperkuat pasokan valas di dalam negeri sehingga dapat menopang stabilitas rupiah di tengah tingginya permintaan dolar AS.













