Minimnya pelatihan dan pengawasan juga menjadi penyebab. Perundungan kerap terjadi di area yang sulit dipantau seperti toilet, koridor, atau ruang digital. Selain itu, belum adanya standar penanganan bullying nasional membuat sekolah sering tidak memiliki pedoman yang jelas.
Faktor eksternal seperti kekerasan di rumah, pengaruh teman sebaya, serta paparan konten media yang mengandung kekerasan turut memperburuk kondisi. Kurangnya empati pada pelaku dan dampak psikologis berkepanjangan pada korban juga menjadi perhatian serius.
“Pelaku sering belum matang secara emosional sehingga kurang empati, sementara korban bisa mengalami stres, depresi, hingga risiko bunuh diri,” jelasnya.
Kasandra menegaskan perlunya pendekatan multidisipliner untuk menangani perundungan secara menyeluruh. Intervensi yang tergesa hanya menyentuh permukaan, sementara konseling, edukasi, dan evaluasi lingkungan sekolah dibutuhkan untuk memutus rantai kekerasan secara ilmiah.
(Red/Antara)















