Refleksinya bagi administrasi publik modern adalah pentingnya integrasi nilai-nilai lokal dalam birokrasi nasional. Modernisasi tidak boleh memutus kesinambungan dengan kearifan tradisional, melainkan justru memperkaya praktik tata kelola publik.
Meski kerajaan memiliki nilai historis dan kultural, tantangan muncul ketika harus disinergikan dengan tata kelola modern yang menuntut keseragaman administrasi. Negara hadir dengan regulasi, sementara kerajaan hidup dalam tradisi dan adat.
Namun, pengalaman Tidore menunjukkan bahwa transformasi ini bisa berjalan beriringan. Sultan menjadi simbol adat, sekaligus duta budaya dan mitra dalam pembangunan daerah. Dengan demikian, konsep administrasi publik inklusif yang memberi ruang bagi adat dan tradisi kerajaan menjadi sangat penting.
Refleksi dari Perjalanan ke Maluku Utara
Perjalanan saya ke Ternate dan Tidore memberikan setidaknya tiga refleksi penting:
1. Sejarah sebagai Fondasi. Perjuangan membangun Indonesia tidak berdiri di ruang hampa. Ia ditopang oleh warisan kerajaan yang sudah berabad-abad mengelola masyarakat dan berinteraksi dengan dunia internasional. Administrasi publik modern sebaiknya tidak melupakan akar sejarah ini.















