Bagi Indonesia hari ini, keberadaan Ternate dan Tidore bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga pengingat bahwa akar kedaulatan bangsa sudah ada jauh sebelum proklamasi 1945.
Kerajaan dalam Bingkai NKRI
Lahirnya NKRI tidak serta-merta menghapus eksistensi kerajaan. Justru, konstitusi dan praktik kenegaraan kita mengakomodasi peran kerajaan sebagai bagian dari kebudayaan bangsa. Hingga kini, beberapa kerajaan di Indonesia tetap diakui dan dihormati, baik secara kultural maupun administratif.
Kesultanan Tidore, misalnya, masih memiliki peran penting dalam menjaga identitas lokal, adat, dan kearifan tradisional. Dalam pertemuan kami, Sultan Tidore menekankan bahwa kerajaan adalah mitra strategis dalam merawat sejarah, budaya, dan persatuan bangsa. Pandangan ini relevan bagi penguatan NKRI yang plural dan majemuk.
Administrasi publik Indonesia sering dilihat dari perspektif modern: birokrasi yang rasional-legal, warisan sistem kolonial, dan struktur formal negara modern. Namun, bila menelusuri lebih dalam, praktik administrasi publik kita juga dipengaruhi oleh sistem kerajaan tradisional.
Kesultanan Ternate dan Tidore telah mengenal pembagian kekuasaan, mekanisme musyawarah, hingga struktur sosial yang berbasis adat. Sultan, dewan adat (bobato), hingga komunitas soa membentuk tata kelola masyarakat yang efektif sesuai konteks zamannya.















