Kondisi ini membuat investor menilai bahwa peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat semakin kecil, karena bank sentral masih harus berhati-hati terhadap potensi kenaikan inflasi yang lebih tinggi.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru kembali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga, dengan alasan inflasi yang masih terkendali dan potensi penghematan besar bagi negara. Trump juga menyoroti tindakan Bank Sentral Eropa yang lebih agresif dalam memotong suku bunga demi mendukung pemulihan ekonomi.
Di dalam negeri, keputusan Bank Indonesia untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 basis poin ke level 5,25 persen belum mampu mendorong penguatan signifikan pada rupiah.
“Faktor global masih dominan dalam memengaruhi kurs. Meski begitu, ruang penguatan rupiah ke depan masih cukup terbuka melalui efek lanjutan dari penurunan suku bunga terhadap ekspansi kredit perbankan,” jelas Rully.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pelaku pasar dan investor disarankan tetap waspada terhadap dinamika kebijakan moneter The Fed yang sangat berpengaruh terhadap arus modal dan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.***
(Red/ANTARA)















