TOPIK MEDIA, JAKARTA – Studi terbaru menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan program olahraga teratur dapat membantu pasien sindrom patah hati atau kardiomiopati takotsubo dalam memulihkan fungsi jantung.
Kardiomiopati takotsubo, yang juga dikenal sebagai sindrom patah hati, merupakan kondisi saat otot jantung melemah mendadak akibat stres emosional maupun fisik, misalnya kehilangan orang tercinta. Kondisi ini kerap menimbulkan gejala mirip serangan jantung dan berisiko meningkatkan kematian dini hingga dua kali lipat dibanding populasi umum.
Dalam penelitian yang dipresentasikan pada Kongres Tahunan European Society of Cardiology di Madrid, 76 pasien sindrom patah hati dilibatkan, mayoritas perempuan dengan rata-rata usia 66 tahun. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yakni penerima perawatan standar, peserta program CBT, dan peserta program olahraga.
Hasil penelitian menunjukkan, kelompok CBT dan olahraga mengalami peningkatan signifikan pada ketersediaan energi jantung, jarak tempuh jalan enam menit, serta konsumsi oksigen maksimum (VO2 max). Pasien CBT, misalnya, meningkat dari 402 meter menjadi 458 meter, sementara kelompok olahraga mampu mencapai rata-rata 528 meter.
“Menariknya, tak hanya olahraga, terapi perilaku kognitif juga terbukti dapat meningkatkan fungsi jantung serta kebugaran pasien,” kata Dr. Sonya Babu-Narayan, Direktur Klinis British Heart Foundation.
Meski sindrom patah hati belum memiliki obat, temuan ini memberi harapan baru untuk mengurangi gejala sekaligus menurunkan risiko kematian. Peneliti menekankan perlunya kajian lanjutan guna memastikan manfaat jangka panjang dari kedua metode tersebut.
(Red/ANTARA)













