Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa tindakan blokade dan ancaman dari AS menjadi penghambat utama proses dialog. Ia menegaskan Iran tetap terbuka untuk negosiasi, namun menilai adanya inkonsistensi dalam sikap pihak lawan.
Dampak konflik tersebut juga tercermin pada lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat berada di kisaran 102,25 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke sekitar 93,47 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari aksi jual obligasi pemerintah yang mendorong kenaikan imbal hasil di berbagai tenor. Kenaikan yield ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan ke depan.
“Imbal hasil obligasi meningkat di hampir semua tenor, termasuk tenor acuan 10 tahun yang naik menjadi 6,73 persen,” jelas Rully.















